

Caci maki berhadiah parcel
Kisah seorang lelaki Zainal Abidin Ali bin Husein ketika dia berjalan menuju masjid. Tiba-tiba datang seseorang lalu mencaci makinya dengan kata-kata menyakitkan hati. Para pelayan Zainal Abidin berasa marah dan ingin memukul orang itu. Namun Zainal Abidin mencegahnya kerana belas kasihan kepada orang itu seraya berkata:
“Wahai Fulan, keburukanku jauh lebih banyak dari yg kamu katakana;dan apa yg belum kamu ketahui tentangku lebih banyak dari yg kamu ketahui. Bila kamu menginginkan agar aku menuturkannya maka aku akan menuturkannya”
Orang itu pun merasa malu. Untuk menutupi rasa malu orang tersebut, Zainal Abidin melepaskan gamisnya dan memberikannya kpd orang itu serta memerintahkan pelayannya memberikan wang seribu dirham kepada oarng itu. Mencaci maki dapat hadiah berlimpah? Itulah spirit tarbiyah, membalas keburukan dengan kebaikan, sebagaimana pohon kurma, “ Jadilah kamu seperti pohon kurma, mereka melemparmu dengan batu namun engkau membalasnya dengan buah”.
Itu zaman dahulu, bagaimana dengan kita sekarang? Jangankan mencaci maki, senyum sahaja sudah dianggap mengejek sedangkan senyum itu kan sedekah.
Spirit untuk bangkit
Engkau pernah gagal? Bangkitlah! Jangan lama-lama terpuruk dan jangan menikmati keterpurukanmu. Jangan ribut mempermasalahkan masalah. Sebab orang yg mempermasalahkan masalah dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Lakukan perubahan, menuju kehidupan lebih baik. Lakukan pendakian. Banyak orang yg ia tidak tahu potensi dirinya dan tidak tahu bagaimana memberdayakannya. Semak potensi diri agar lebih berguna dalam proses tarbawi. Barangkali kita sangat sibuk tapi hasilnya tiada. Ke sana ke mari outputnya tak pasti. Banyak amanah tapi tidak fathanah. Maka perbanyak istighfar, barangkali dosa kecil itu kini telah menjadi besar kerana kita remehkan, kita banggakan, terus-menerus tak pernah kembali untuk bertaubat. Bilal bin Sa’ad menasihatkan, “ Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah besarnya Dzat yg engkau durhakai.”
“Bila kamu tak bisa bangun di malam hari dan tak bisa berpuasa di siang hari, ketahuilah sesungguhnya engkau tengah terbelenggu oleh dosa-dosamu.” Kata Fudhail bin Iyadh.
Spirit untuk memulai
“ Seorang mukmin adalah pemilik mata hati yg tajam pada saat terjadinya syubhat, dan pemilik akal sempurna ketika bergejolaknya syahwat” (Ibnu Taimiyah)
Bila sudah jelas, segera melangkah berani. Memulai dari dalam diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang, dari yg bisa, dari yg ada, bukan menuntut sana sini. Tarbiyah bukan sekadar training kilat nan sesaat yg hanya effect sesaat. Tarbiyah dilakukanrutin pekanan(bulanan) dalam pertemuan dan rutin harian oleh setiap diri untuk terus menyalakan lentera hati sampai mati hapy ending full barokah.
Tarbiyah bicara dengan kerja nyata bukan sekadar teori. Tarbiyah telah mengubah peradaban manusia, membentuk manusia-manusia unggul berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat untuk tujuan mulia dan dahsyat, menjadi generasi Qurani yg unik. Akankah itu terulang kembali? InsyaAllah
Tugas kita adalah menyalakan lentera bukan mencela kegelapan. Kewajiban adalah memulai langkah bukan menuntut kesempurnaan. Tugas kita adalah untuk memulai. Lalu bagaimana memulai perubahan itu???
Perubahan revolusioner dimulai secara konseptual. Untuk mengubah peradaban dimulai dari perubahan diri dengan pemversihan hati( tazkiyatun nafs), yakni dengan MENZEROKAN DIRI dengan LAA ILAAHA{ 0} ILLALLAH {1}. Mengosongkannya dari semua ilah dan thagut yg disembah selain Allah. Lalu mengisi, membangun dan menanamkan sebenar-benarnya ilah yg haq yakni Allah.
Perubahan membutuhkan agent of change, agen perubahan. Agen itu ada dalam kader yg siap memikul beban. Yakni mukmin militant yg dapat mengemban misi dakwah, bertanggungjawab menyebarkan risalah Islam, tidak kikir terhadap harta, rela menafkahkan jiwanya untuk perjuangan di jalan Allah. Dimulai dari dari “ sekolah malam” untuk membentuk kader militant sebelum diterjunkan di medan pertempuran. Salahuddin al-Ayyubi memilih pasukan berdasarkan kualitas ibadah dan ruhiyah. Perwira-perwira yg menghidupkan qiyamullail itulah mereka yg diberangkatkan ke medan jihad. Sekolah malam qiyamullail inilah yg mengisi amunisasi para kader dnegan militansi.
Dipetik dari buku ‘New Quantum Tarbiyah Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat’ tulisan Solikhin Abu Izzudin
kekuatan itu perlu dibina,disusun dan diatur, bukan ditunggu datang terus menggalas bebanan. untuk membina kekuatan,perlukan kepada hati dan akal yg sepadu. akal dan hati perlu dididik supaya menurut kehendak syariat.
ReplyDeleteakak... terima kasih atas perkongsian..
ReplyDeleterindu akak~